Tampilkan postingan dengan label Corat-Coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Corat-Coret. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Juni 2008

Di Pelaminan Surga Aku Menunggumu


by: Miela el-Zahrah

Kau sembunyikan cinta dalam diam
hanya berbisik dikeriuhan angin malam
menyelisik desiran yang tenggelam
anganku melayang dalam kelam

Tabur kembang tak pernah lekang
irama isak mendayu sendu tersekang
disamping nisan yang terkekang
aku meratapmu dalam kenang

Tersungkur lunglai tubuh ringkihku
diatas tanah bertaman kerinduan
kidung doa selalu bergema diruang resah
bergetar dinding asa berlumur dosa


Sekarang aku mengejar amarah kehidupan
mendekat meredam kesendirian
langkahku merajut pintalan mimpi
menyulam benang diatas pelaminan suci

Saat mentari bercerita cahaya surga
aku menanti bias hangatkan raga
dalam jiwa ku bergeming mesra
di pelaminan surga aku menunggumu

Cairo,25 juni'08



Sabtu, 21 Juni 2008

Dentuman Hati


"Tulisan ini kenangan Ramadhan yang telah berlalu. Mungkinkah aku kan menyapanya lagi"(Semoga) Amien...

Senja mulai tersenyum menampakkan bias cahaya di ufuk timur, disudut itu kutatap tajam berusaha membalas senyumannya meskipun mataku sayu. Wajahnya yang mega sapa yang santun menjernihkan penglihatanku. Di bulan Ramadhan, di pagi hari ku perkenalkan diriku dengan alam lain, kesejukan terasa bersamanya. Musim semi menyambut kehadiranku dinegri fir'aun. Bunga bertebaran ditaman, bermekaran segar tersentuh basah embun yang jernih menambah suasana asri, romantis, nyaman.

"Yup," Kata itu. Selama ini yang ingin kudendangkan ditelingaku. Kini telah bertabuh dan menari-nari dipotret kehidupanku. Hitam putih jadi warna favoritku.

Kepenatan melebur ke seluruh sendi ototku setelah seharian berjubel dengan pengurusan adminitrasi kuliah. Ablah Wafa’ membuatku mengelus dada hampir tiga jam thabur. Kakiku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Yah malah dibukrohin.

Rumahku tidak terlalu jauh dari kuliah banat. Hay-Tsabi’ salah satu daerah madinat Nasr. Biasanya aku hanya menaiki el-tramko tuk sampai kesana hanya 25 pister. Sesampai di rumah." Ahhh…" Kurebahkan tubuh di atas sarir empukku. Mesin otak seakan berkarat seperti tak terpakai beribu abad. Kubiarkan mata terpejam dan terbang bersama mimpi diterik siang.

Menjelang sore aroma masakan membuyarkan mimpi indahku, sehingga membangunkanku, menyatukan jasad dengan ruh yang tak sejalur dalam tidurku."Berisik," teriak batinku. Reflek kakiku menyentuh lantai seperti ada kekuatan tuk mendekatinya, dengan langkah seorang pemabuk tergiur akan kenikmatan minuman araknya.

"Assalamu’alaikum!?"

"Sehat!?" suara asing menyapa lembut di daun telingaku mengerakkan kelopak mata pejamku. Wajahku melongok ke arah suara itu. Dua orang lelaki yang baru kukenal duduk manis menatapku.

"Wa’alaikumsalam"

"Alhamdulillah" jawabku.

"Ku tinggal dulu kebelakang ya kak?!" wajahku memerah tersipu malu kubalikkan badanku menjauh dan kusembunyikan wajah dalam air wudhuku.

Selesai shalat ashar, kutenangkan diri menelusup dalam lorong doa. Kubelai sajadah panjang dengan sentuhan keningku. Membuang benih keresahan. Taslim jasadku mengosongkan angan-angan tak bertepi. Keteduhan sore hari menyingkap tabir kekuatan itu di depan mataku. Sosok pria di sampingku membentuk tanda tanya dalam hati.

"Kamu Mia kan?!" tanyanya memulai pembicaraan.

"Dari Jawa mana Mia?" lanjutnya dengan pandangan matanya konsisten pada permainan computer di atas meja makan panjang yang dimainkannya sedari tadi, dengan tangan kanan memegang mouse meliuk-liuk seperti gerakan ular.

"Jawa Tengah, Kecamatan Asri"

"Kakak tahu daerah itu?" Dengan agak ragu kutimpal balik sebuah pertanyaan kepadanya. Aku tahu kalau keduanya telah mengenaliku ketika di bandara menjemputku, tapi aku masih belum kenal nama mereka berdua.

"Tidak!" Sepintas dia tersenyum dan menatapku. Sorotan matanya beradu dengan tatapan bola mataku seperti ada kilatan cahaya yang siap menyambar dan menghanguskan apa saja disekitarnya. Kubalas senyumannya. Sudah lama Aku tidak melatih otot dagu dan kedua pipiku. Jangankan untuk tertawa, mengukir senyum aja dirona wajahku aku enggan tuk mengekspresikannya. Sehingga pantaslah para tetangga memberi julukan kepadaku Mega Mendung.

"Miaaa…?!" Leni temanku, memanggilku dari dapur. Dari saking asyiknya ngobrol aku lupa kalau tiga orang teman serumahku Anggi, Rini, Leni lagi nyiapin masakan buat buka puasa.

"Mia, tolong bantuin buat sambel terasi yaaa…nih ulek sampek halus." Suara lembut Leni terus mengobok hati dan pikiranku tuk menumbuhkan semangatku menyentuh dunia dapur. Hidup di Mesir sebuah tantangan yang berat bagi orang sepertiku yang tak pandai memasak. Aku pikir memasak tidaklah terlalu penting, toh aku di sini bukan untuk belajar memasak, akan tetapi belajar agama.

"Ah…peduli amat sih yang penting bisa mengisi perut kosongku" belum lima menit ku mengulek sambel terasi, sekilas ada rintihan suara dan derap kaki dihadapanku seperti orang yang mengadu.

"Sini aku bantuin ngulek yaaa..."pinta pria itu kepadaku. Aku hanya bisa diam dan membisu tak sanggup menolak tawaran jasanya. Aku malah salah tingkah dibuatnya. Setelah masakan semua telah beres. Ikan bakar, kuah sop, sambel terasi untuk dihidangkan dan disantap mengisi kekosongan waktu menunggu adzan maghrib berkumandang, yah penantian terbesar bagi umat islam yang merupakan akhir sebuah perjalanan berperang melawan hawa nafsu. Kami serumah saling ta’aruf dengan kedua orang pria itu supaya lebih akrab gitu. Seperti kata pepatah Tak Kenal Maka Tak Sayang. Kak Dani dan Kak Rudi nama kedua pria itu.

"Mia pernah ke tahrir?" tanya K’Dani selesai shalat maghrib berjama’ah.

"Belum, daerah mana tuh kak?" tanyaku dengan wajah serius

"Gimana, kalau ku ajak kalian semua besok malam selepas acara silaturrahmi di rumah Pak penasehat ?!" ajak K’Dani. Pria itu menelusuri taman hati mengisi bunga asmara mengganti yang telah layu. Segera kupagari hati dengan besi iman agar aman dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Bibirku kelu menyapa tuk kuucapkan syukran jazilan kepadanya.

Pikiranku bak buih ombak yang berguling-guling di samudera biru nan indah, tapi tampak buram dan jauh di ujung mata beningku. Mengingat posisi sebagai anak yang telah dijodohkan kedua orang tua, dengan seorang lelaki yang tak pernah ku kenal. Konon katanya; dari penjelasan pamanku. Aku dijodohkan semenjak aku kecil dengan putra seorang kyai ternama. Dari penjelasan itupun, baru ku dengar setelah seminggu Aku di wisuda di salah satu pesantren salaf di Jawa Tengah. Pondok yang dulu kuanggap sebuah penjara suci karena pelbagai macam peraturan yang ketat, dengan kegiatan yang padat, mulai dari kegiatan intra sampek ke ekstrakurikuler dan ditambah lagi setumpuk mata pelajaran melelahkan. Begitu keluar darinya bagaikan buruan yang dilepas dari sangkarnya.

Bunga terus tumbuh ditaman hatiku. Pertanyaan masih belum sempat terjawab kalimat itu seperti bom yang siap meledak kapan saja. Hatiku punya strategi ilahi , pertanyaan itu kuajukan pada-Nya dalam setiap sepertiga malam dalam remang-remang lampu temaram. Pria ituterus menyirami bunga di taman hatiku mengokohkan akar keringku. Kutatap wajah pria itu dalam diamku segera ku berpaling ketika dia balik menatap dengan tatapan matanya yang tajam. Ketakutan datang menyapa, takut bunga-bunga di hatiku mekar dan berpindah di taman hatinya sebelum pertanyaanku terjawab oleh-Nya.

Roda kehidupan terus berputar, perjalanan kehidupanku mulai berjeruji ketika kuterjatuh dari atas kendaraan tiada yang dapat menolongku. Tafwidl pada yang Maha Kuasa. Tongkat kesabaran segera kupegang. Ada yang membopongku dibawah kesadaranku. Setelah kutersadar ku bertanya pada yang ada disekelilingku.

" Siapa yang telah menolongku?"

Mereka bungkam dalam seribu bahasa, tapi ku melihat kelebatan bayangan yang tidak asing lagi dalam hatiku. Sehingga tak sanggup menyebut namanya lagi. Ingatanku mulia pulih kembali bersamaan dengan mekarnya bunga di hatiku.

Pria itu terus menyirami bunga di taman hatiku, tapi tak sesering mungkin tak seperti dulu lagi. Terkadang bungaku layu dan berguguran. Kusiram sendiri dengan sisa-sisa air Rahmat-Nya.

Ini adalah suatu dilema dalam hidupku, dimana aku harus memilih antara kehendak orang tua dan pilihanku sendiri, sedangkan jawaban hatiku mulai terjawab oleh-Nya, berangsur-angsur gambar itu jelas tersisip jawaban yang lugas mudah kucerna dan diolah oleh otakku. Tubuhku terkulai lemas tak berdaya. Pikiranku terkotori bermacam kotoran merambat menyebabkan penyakit dalam hati.

"Penyakit apakah itu?" sayup kudengar desiran angin yang berlawanan arah. Segera kulindungi bungaku yang mekar indah di taman hatiku tak ada yang mengusik dan mengganggunya.

"Penyakit itu, penyakit cintakah?" Tidak aku tidak ingin menodai cintaku pada-Nya. Tidak itu bukan penyakit, akan kuobati, tapi itu bunga baru yang menyelusup dalam hatiku. Yach...itu bunga cinta hanya bisa dipetik sang empunya. Entah kapan, hanya menunggu waktu yang tepat. Aku hanya bisa menengadah moga dentuman hatiku tak sampai menyakiti hati pemilik bunga itu, walaupun kemarin kuluapkan dalam amarah, karena dia telah mencubit tangkai bungaku kemudian terlalu lama menjanggal, menggelitik menyayat hati. Tangisku mulai pecah, serpihan-serpihan air mata membasahi kelopak bungaku. Dan moga bunga itu tumbuh mekar dan harum sampai di taman surgawi.

Keterangan :

Ablah : Panggilan bagi yg lebih tua khusus perempuan (bhs arab Ammiyah)
Thobur : Ngantri
Bukroh : Ditunda sampai besok (bhs Arab Ammiyah)
kuliah banat: Kuliah khusus perempuan
Sarir : Kasur
el-Tramco : Salah satu kendaraan dimesir
25 piester : Mata uang mesir, dirupiahkan Rp600
Tahrir : Salah satu daerah wisata dekat sungai nil dimesir



Rabu, 18 Juni 2008

"AKU MENCINTAI SUAMIKU"

Ujian telah berlalu tentunya banyak harapan untuk mencapai kesuksesan. Saya tidak akan menyesalin buah hasil kerja kerasku.Apapun yang terjadi saya sudah berusaha dan tawakkal kepada Allah. Akhirnya aku hanya berdoa pasrah. Kenangan masa silam akan kubuang jauh-jauh dan kupetik pelajaran sebuah kegagalan. Ada kenyakinan dalam diri aku pasti berhasil.

Kini aku tak lagi belajar dalam kegamangan. Hidup baru, kutemukan sensasi baru. Yang dulunya aku hanya mendengar bisikan hati tak berarah. Pendamping hidupku yang setia setiap saat menemaniku dengan sabar, tak pernah terdengar satu katapun keluhan dari bibirnya, selalu memberi semangat dalam belajar memperjuangkan hidup. Bahasa bijaksana yang selalu ia lontarkan mebius hatiku menjadi seorang pahlawan tanpa pamrih dan tak kenal lelah. Dia adalah Suamiku. Aku akan bilang padanya kalau aku sangat mencintainya. Cinta yang diridhai-Nya.


Hal yang menarik kenapa aku sangat menyayanginya, dia selalu ikhlas menerima keadaannya saat ini dan yang akan datang. Sabar dalam mengahadapi cobaan. Cerdas dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, meskipun terkadang agak teledor. Saat ini dan sampai akhir hidupku aku akan selalu memperjuangkan cintaku. Aku ingin mendayung perahu sampai tujuan hanya bersamanya. Sebuah harapan yang selalu aku dambakan. Aku takkan salah lagi mencari pendamping hidup untuk mencari Ridha-Nya.
Amien....

Senin, 02 Juni 2008

Hati-Hati Bawa Hati

By : Miela el-Zahrah


Bila Jalan lurus
Pandangi kedepan aspal halus
Tak bercela terurus
Damai hati nan tulus

Separuh sepasang mata berjalan
Tertunduk melepas alas dalam terjal
Menahan sakit kerikil tajam
Perih hati dipermainkan

Hati-hati bawa hati
Irama detaknya selaras api
Berkobar dalam benak yang sepi
percikannya merusak dawai mimpi

Jangan main hati
Panah syetan akan memburu dengki
Menancap mendongak awan berlukis peti
Alang-alang ditanah melambai menanti

Luka tak berdarah itu
Tersembunyi kepedihan yang dalam
Lempar dengan batu dzikir
hatimu takkan terkilir


Selasa, 27 Mei 2008

Mengapa Tuhan Membelah Bumi ?

By : Miela el-Zahrah

Mesir berselimut pasir
Tiupan zaman membentuk kerangka fir’aun
Menghempas tongkat musa
Dalam lautan merah

Piramid tak mampu menopang raga
Terlalu rapuh berteman singa berwajah garang
menerkam langit membius cakrawala
menabur kisah di nil yang binal

Tembok baja sinis mencibir
Saat batu karang indah terukir
Hasrat melangit bergemma mengusir
Batu batupun bertasbih dan berdzikir

Sekejab kilatan petir menampar seribu menara
Membelah kemewahan yang semu
Membakar hawa sesat dan membuang puing-puing
Ketengah padang tandus nan gersang

Adakah cela bumi
Atau racun melukainya
Mungkin alam semesta menggertaknya

Lantas...
Mengapa Tuhan membelah bumi?


Minggu, 25 Mei 2008

Bunda Aku Pulang

"Puisi ini terinspirasi dari tulisan sahabatku di pembaringan suci nan sepi,moga Amal dan Ibadahnya diterima disisiNya,Amien."

Bunda..
Aku pulang dari ketidak abadian
Cahaya cintaku tetap menerangi
jejak langkahmu dibumi

Bunda...
Aku pulang membawa harapan
Bintang kejora mengukir namaku
Langit tak segelap dulu
kisah kan menemanimu

Bunda...
Aku pulang bersimpuh
Noda-noda kotorku masih menempel ditelapak kakimu
Sirami aku dengan percikan doa
kesejukan kan mengalir dengan keikhlasanmu

Bunda...
Aku pulang tak sekedar mimpi
rohku menjauh dari kefanaan dunia
ingin bertemu denganmu dikehidupan abadi
Tuhan telah mengambil ragaku

Kamis, 01 Mei 2008

Salah Paham


suatu hari aku berjalan bersama suamiku menelusuri kota Cairo . Saat itu seperti biasa jalan raya cairo selalu macet dengan kendaraan mobil tanpa lalu lintas yang teratur. Banyak pengemudi yang tidak mempunyai kedisiplinan yang baik. Bisa dikatakan Cairo kota kocar-kacir. Mereka lebih senang mencari tempat kosong dijadikan garasi. Pinggiran jalan raya penuh dengan mobil tanpa pengemudi.

Aku melihat dari jauh ada anak Indonesia. Pengennya menyapa karena emang tegur sapa merupakan tradisi yang baik untuk diciptakan. Semakin dekat anak itu, semakin aneh perasaanku. keanehan baru terasa dimatanya setelah dia didepanku. Dia menatap seperti ketidak sukaanku bareng dengan suamiku. Niat awal jadi hilang sudah karena wajah dan tatapan yang tak bersahabat. Aku bilang ma suamiku, "kenapa ya Mas kok anak itu menatap tidak bersahabat pada kita?", "Mungkin aja dia anggap kita pacaran hehe..." seperti biasa suamiku selalu melontarkan bahasa humor kepadaku saat aku bertanya serius. Aku menoleh kebelakang dia masih melirikku dengan pandangan aneh. Aku tambah heran kali aja benar apa yang dikatakan suamiku, mungkin dia salah paham kalau aku pacaran. Aku tarik tangan suamiku dan kuletakkan dibahu, karena aku yakin kalaupun ada yang pacaran tak mungkin berbuat seperti apa aku lakukan. Biar dia gak salah paham itu loh maksudku.

Gelisah Menjelang Ujian


Seperti biasa aku selalu gelisah menjelang ujian. Bukannya takut gak lulus, tapi beban ilmu untuk masyarakat sekitarku. Tiga tahun aku tak mampu menjebol gedung ujian Azhar. Aku tak punya alasan kenapa jiwa dan ragaku tak mampu.

Usaha untuk terus berjuang pasti ada. Intropeksi diri selalu aku catat dalam diaryku. Modal dasar untuk memahami pelajaran telah aku rehab secara berangsur-angsur.

Aku diam sejenak dalam keheningan, ada suara gemerincik air mengalun indah dalam telingaku. Tapi sesaat, kemudian aku sadar tetesan air itu tak menetes pada tempatnya. Satu jam air itu dibiarkan begitu saja. Bisa kulihat satu gayung mungkin penuh dengan air bila tetesan itu ditampung didalamnya.

Aku tak banyak mengetahui tentang hidupku sekarang dan yang akan datang. Aku akan terus menciptakan yang terbaik, toh walaupun aku gagal aku terus berusaha dan menjadikan kegagalan pelajaran yang baik untukku. Aku merasa seperti air yang menetes bukan pada tempatnya. Aku mencari ilmu dalam sikon tak terarah. Situasi dan kondisi awal aku menginjak Kakiku kenegri seribu menara ini mengecewakan, menegangkan ditambah lagi pengaruh teman yang tak berbudi luhur. Aku tak bisa menceritakan kronologi sedetail mungkin. Terlalu banyak alasan entar orang beranggapan.

Penderitaan untuk mencari ilmu belum sempurna mungkin untukku. Guru kesayanganku telah menghimbauku dari awal. "Banyak rintangan untuk mendapatkan Ilmu. Jalan kamu akan terus berkerikil dan berjurang curam nan kelam, kecuali kamu berusaha mendapatkannya. Kamu akan mendapatkan mutiara dalam lautan." Ungkapan kata beliau yang selalu bergeming dalam benakku. Dan sekarang baru terasa kakiku perih menahan luka yang berdarah karena jalanku berkerikil. Banyak orang yang mencemoh dan menghina tentang aku dengan kegagalanku. Tapi, aku tetap sabar dan terus berusaha mendapatkan apa yang aku cari. iya, Ilmu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Aku tetap mengharap dipenghujung hidupku keberhasilan menyapa tersenyum dimataku. Iringan doa dari semua pihak Aku harapkan. Aku selalu berdoa bagi semua manusia yang menuntut Ilmu. Kita adalah Pejuang mencari keridhaanNya. Moga berhasil. Amien....


Minggu, 27 April 2008

Deretan Rantai Pengalaman

By : Miela El-ZahRah

Berjejer seribu kaki
ada seni langkah mengusik debu
mengiring kerikil kecil ketepian
suara siur merintih kesepian

Luka berdarah kering terhempas badai
meronta membawa kecaman

Mata rantai masih dalam kedipanku
terus berputar dalam kalbu
mengelilingi jernih kebahagiaan
menjerit dalam tangis penderiataan

Retakan bumi tak membuat
Jari-jari kakiku meninggalkan kisah
Kutulis jejak ditepian bukit karang
Terjalnya mengukir keabadian cintaNya

Bukit tursinai menyampaikan salam
Kasih seorang cucu adam dalam asmaranya
Kekuatan batu baja dalam diri yang menjulang tinggi
Masih melekat dalam rahmatNya